Selasa, 24 Maret 2020

Dendrophile


Aku mencintaimu

Pada setiap langkah waktu yang telah berlalu

Di setiap pohon randu yang selalu melilitkan rindu

Kamu

Mengubah candu yang selalu ingin bertemu, menjadi badai asing yang malah mengganggu

Dalam sendu yang makin tertanam dalam, dalam runyam hati yang makin tak menentu

Dirimu berubah, aku hanya resah jika nanti tak lagi kau sebut aku tempat singgah.

Share:

Minggu, 15 September 2019

Kereta di Ujung Waktu

(Melaju tanpa ragu mengejar mu diujung waktu) 


Pada langkah waktu yang tak terhitung, dalam rasa hanya dikata, merenung tak bersuara. 


 Peron pijakan langkah dalam ingatan yang selalu mengiang.


Pelik suara berderu saat ingin berjumpa dan melepas rindu , mengulas berbagai rasa yang ada. 


Lantas yang terjadi hanya pergi atau kembali. 

 Bagai kereta pada sebuah stasiun. 

Tak ada yang tau, asing bisa menjadi candu. 


 Mungkin pergi untuk mencapai tujuan dari perjalanan kereta, atau untuk pergi jauh dan menetap pada stasiun yang lain. 


Selalu ada tempat berpulang, baik Sementara atau Selamanya.
Share:

Selasa, 25 Juni 2019

Sabtu, 06 April 2019

Jurang Rindu Asmara


Jurang Rindu Asmara
(untuk Karibku yang sedang berLDR ria)

Semua terasa saat kamu tidak lagi disampingku, tak lagi kutatap senyum manismu, tak lagi bisa ku perhatikan sikap konyolmu yang membuatku tersenyum lebar.

Kini, kita terpisah oleh jarak yang membuat jurang diantara asmara yang sedang menggebu. Kesibukanku menciptakan beban yang harus kamu pikul sendirian, duniaku mampu mengabaikanmu.

Maaf, untuk setiap kerinduan yang tak ku mengerti, yang tak pernah bisa membuat jembatan asmara diantara jurang rindu kita.

Cukup kamu percaya padaku bahwa disini diriku juga merindu, aku ingin melihat senyum manismu, menatapmu lama-lama dan duduk diantara pohon asri yang menjulang tinggi.

Untuk seluruh ujian yang kita lalui masing-masing, aku hanya bisa memohon kepada Sang Maha Agung agar kita dapat bertahan dan bersabar lebih, sampai pada saatnya kita dipertemukan.

Bantu aku untuk datang menjemputmu dan melangkah pada satu ikatan suci, dengan cara bertahan, percaya, dan berdoa. Bantu aku untuk menyelesaikan setiap ujian yang datang kepadaku, temani aku dalam setiap kesulitanku, temani aku dalam setiap kebahagiaan yang aku dapatkan.

Biarkan jurang rindu semakin lebar, tapi akan kita buat jembatan asmara yang menyatukan. Hanya Aku dan Kamu.

Share:

Sabtu, 30 Maret 2019

Jejak Takdir


Jejak Takdir
(Perjalanan Untuk Saling Melepaskan)

Langkah kaki mu yang semakin cepat menjauh dariku , semakin redup suara tangismu, dan kemudian hilang ditelan malam kelam.

Kau biarkan aku menangis dan menggila dalam kesepian yang menolakmu pergi.

Entah kau sedang apa, dan dengan siapa, serta bagaimana keadaan mu setelah kita berdebat hebat, Apa kau sama menjadi gila seperti ku? Atau, kau baik baik saja?.

Kubiarkan hatiku membencimu malam ini, menguras seluruh tandon air di mata hingga membuat jebol tembok  kenangan. Kubiarkan hatiku marah, benci, dan sesak terhadap pergimu. Hingga aku terlelap, dan mengira kepergianmu hanya sebuah mimpi buruk belaka.

Tapi, pada kenyataannya itu bukan hanya sekedar mimpi buruk tapi sebuah jejak takdir. Takdir bahwa kita harus berpisah disaat kita tak ingin mengakhirinya.

Jejak yang kau hilangkan, tak mampu kurengkuh,
Jejak yang kau tinggalkan, mampu merangkai teka teki rumit, dan membuatku semakin gila.

Muak hati membuatku kalah, dan membiarkanmu pergi dengan jejak takdir yang tak ingin kutahan lagi.

Kuhapuskan jejakmu yang masih membuatku bertanya, Kuikhlaskan kepergianmu.




Share:

Senin, 25 Maret 2019

Candu Yang Asing

Candu yang Asing

(Sebuah Rasa Kehilangan yang tidak bisa dilupakan) 

Bak dua orang yang sedang dimadu cinta. Lengkung senyum tipis manis menggugah semangat, tebarkan kebahagiaan dimana mana. Notif pesan singkat dengan nada khusus merambat ke hati menciutkan sepi.

Tiap Detik, Menit, Jam tidak pernah absen untuk saling melempar kata kata manja atau sekedar cerita tentang kehidupan masing-masing. Hanya Makan, Sembahyang, Buang Air, dan dipanggil Ibuk saja mereka berhenti untuk terus bermesraan ria lewat pesan singkat maupun berbincang lewat telepon.

Sampai saat, dimana sebuah masalah kecil yang terus merambah hingga hari-hari yang biasanya diisi oleh rayuan manja dan saling memotivasi tergantikan oleh sikap diam dan acuh tak acuh.

Yang biasanya tidak mau mengakhiri telepon dan berbalas pesan, sekarang malah dibiarkan berdebu dan tertimbun kesibukan yang itu dilakukan hanya untuk menutupi kekesalan dan amarah.

Lucunya, mereka tidak menyelesaikan nya dengan berbalas pesan atau berjanjian bertemu, tapi malah bersindiran di status. Ditambah juga aneh, ya aneh, bagaimana tidak, yang bisa melihat status itu pun hanya mereka berdua, tetapi tetap saja tidak menghasilkan sesuatu yang berujung perdaiman. Yang ada hanya terus saling menyindir sampai saling menyalahkan. lalu pada akhirnya, hilang.

Jelas selalu teringat semua kenangan, tapi tidak bisa menghindari kehilangan. Hingga saat, mereka kembali berkabar. Ada candu yang menjadi asing, ada tawa yang menjadi tangis, ada dia yang menjadi aku. Menggantikan posisi ku dihatimu.

Share:

Perpisahan di Akhir Senja


Perpisahan di Akhir Senja

(Untukmu, yang pergi untuk aku)

Saat itu senja begitu indah, dua anak manusia beradu tawa, dengan kopi yang manis pelepas dahaga. 
Hingga tak menyangka, akhir senja memisahkannya.

Saat itu senja begitu indah, menyisir jalan desa dengan motor tua tapi masih gagah. Semacam dunia milik berdua, padahal dunia milik Tuhan.

Saat itu senja begitu indah, bak hati berbunga bunga. Padahal saat itu musim dingin, mana ada bunga tumbuh.

Hingga saat senja tidak lagi indah, musim dingin tambah dingin. Bunga di hati sudah layu mati. Dan aku harus menikmati kopi pahit di senja yang tak lagi indah, setelah kau putuskan untuk mengakhiri asmara yang sedang menggebu ini, mengucapkan dengan lantang perihal perpisahan hubungan yang terjalin, disaat senja sedang merah merona.

Aku gila, terbebani kenangan manis sendirian, melakukan hal yang dibatas wajar seorang aku, dan berpura-pura melupakan padahal selalu mengingat. Dan kau pun kembali, untuk memulihkanku dan tentu saja memperdalam luka dihati. Menyadarkan dan meyakinkanku bahwa kepergiannya hanya untuk ku. Sejauh dia melangkah pergi, Tujuan kembalinya hanya aku (Kata Dia).

Luluh dan menerima hingga menjalani hidup sunyi dan semu tanpa bunga lagi di taman hati. Dan bersabar menunggu adalah jalannya. Entah dia akan kembali membawa ku pergi kepelaminan, atau kembali mengundangku sebagai tamunya. Entahlah.

Yang kutau hanya perpisahan ini menyakitkan, sejak saat itu senja tak lagi terlihat indah dimataku.

Share:

Selasa, 25 Desember 2018

Rumah Yang Hilang


(Sebuah Cerita Pendek Tentang Sebuah Kehilangan)

Siapa yang tak pernah kehilangan? Siapa yang tak sedih jika kehilangan? Entah kehilangan orang yang sangat dicintai, maupun orang yang bukan siapa-siapa bagi kita. Sebuah kepergian bukanlah yang mudah, segala rintangan dari yang mudah sampai tersulit sekalipun siap untuk diterjang, apalagi soal keikhlasan hati. Dan melalui ini, akan kuceritakan tentang dia, yang hilang.

Perdebatan tak ada henti dilalui setelah sekian lama bertahan, berhari-hari, berbulan-bulan. Tapi memang hubungan jarak jauh sangat menyulitkan, apalagi jika soal kepercayaan, mesti was-was tingkat tinggi. Ada tempat pulang bagi seorang perantau, Ada pula tempat pulang bagi seorang yang sedang kasmaran. Mungkin sering dinamakan dengan sebutan Rumah.

Siapapun pasti akan kembli ke Rumah nya sendiri-sendiri, siapapun dan dimanapun itu, ada tempat untuk berkeluh kesah dan sumber kebahagiaan, ya tentu saja Rumah.

Lantas Bagaimana jika Rumah itu Hilang? Berubah dengan cepatnya, dan menjadi Rumah untuk orang lain. Apakah wajar hal seperti itu? Bukan kah pemilik rumah yang meninggalkan Rumah? Tetapi, Malah Rumah yang meninggalkan Pemiliknya. Apakah rumah juga memiliki hak untuk pergi? Meninggalkan sang pemilik rumah begitu saja? Padahal, pemilik rumah ingin bertahan walau rumah tak lagi indah, walau rumah tak lagi kokoh. Sampai saja, saking cinta dengan si Rumah, sang pemilik rumah rela Rumah milik nya di singgahi orang lain, asal Rumah tidak meninggalkannya.

Jika bertahan membuat sakit, dan pergi membuat terluka. Apa yang harus dilakukan?

Share:

Selasa, 11 Desember 2018

Senin, 10 Desember 2018

Minggu, 23 September 2018

Pancasila dalam Al Quran pada Juz 28



Nama : Adinda Sulistyo Prihatini
NIM : 1803036070
Prodi : Manajemen Pendidikan Islam

PANCASILA DALAM AL QURAN PADA JUZ 28
1.     Sila pertama
(Ketuhanan Yang Maha Esa)
Surat Al-Hasyr Ayat 22

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

“Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
Ketuhanan Yang Maha Esa
Penjelasan :
            Ketuhanan Yang Maha Esa, manusia yang beragama pasti memiliki Tuhan yang mereka sembah. Dalam agama islam hanya ada 1 Tuhan yang disembah yaitu Allah SWT. Tidak ada yang pantas dan tidak ada yang boleh disembah selain Dia. Hubungan dengan Sila pertama pada ayat diatas adalah bahwa suatu pemerintahan pasti mempunyai Dasar Negara yang menjadi pedoman atau berpegang teguh yang sama seperti ketika seorang hamba beriman kepada TuhanNya.

2.     Sila kedua
(Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab)
Surat Al-Mumtahanah Ayat 8

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”
Ketuhanan Yang Maha Esa
Penjelasan :
            Kemanusiaan yang adil dan beradab , kita sebagai manusia harus memiliki sikap toleransi, adil, dan berbuat baik terhadap sesama, karena sudah dijelaskan dengan sangat jelas bahwa Allah SWT melarang kita untuk berbuat keburukan dan tidak berbuat adil dalam hal apapun. Hubungan dengan Sila kedua pada ayat diatas bahwa manusia seharusnya memilki sikap yang beradab dan berperilaku baik terhadap siapapun, yang menghargai pendapat , dan adil terhadap setiap hak dan kewajiban diri sendiri maupun orang lain.

3.     Sila ketiga
(Persatuan Indonesia)
Surat Al-Hasyr Ayat 10

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”

Penjelasan :
Persatuan Indonesia,beragam suku, ras, agama, yang berbeda beda yang bersatu dalam suatu Negara yang bernama Indonesia, menjadi bukti bahwa walau memiliki banyak perbedaan tapi Indonesia dapat bersatu. Hubungan dengan Sila Ketiga pada ayat diatas adalah  Kaum Muhajirin dan Kaum ansor yang bersatu dan itulah yang menjadi contoh untuk generasi generasi selanjutnya untuk menyatukan keberagaman walau berbeda asal tempat, ras, suku dan yang lainnya.

4.     Sila keempat
(Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmst kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan)

Surat Al-Mujadilah Ayat 10

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal”

Penjelasan :
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratn perwakilan, dalam ayat diatas dijelaskan bahwa dalam mengadakan pembicaraan atau musyawarah tidak diperkenankan membicarakan tentang keburukan, yang membuat dosa. Di dalam ayat diatas dijelaskan pula tentang anjuran membuat kebijaksanaan. Hubungan Sila Keempat dengan ayat diatas yaitu, dalam permusyawaratan atau pembicaraan kita dianjurkan untuk berbuat kebajikan serta kebijaksanaan dalam mengambil kesimpulan atau keputusan dalam pemusyarawahan atau pembicaraan tersebut.

5.     Sila kelima
(Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia)
Surat At-Talaq Ayat 8

وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهِ فَحَاسَبْنَاهَا حِسَابًا شَدِيدًا وَعَذَّبْنَاهَا عَذَابًا نُكْرًا

“Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan”

Penjelasan :
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, mudah saja sebenarnya, jika kita melakukan kewajiban kita, maka kita akan mendapat hak kita. Pun pula ketika melakukan kebaikan atau kebajikan, maka yang di dapatkan juga kebaikan atau kebajikan tersebut, kemudian jika kita melakukan keburukan maka yang akan di dapat adalah keburukan itu sendiri. Allah SWT itu Maha Adil, apapun yang dilakukan itu pula yang akan didapatkan. Hubungan Sila Kelima dengan ayat diatas adalah ketika berkhianat, mendurhakai perintah seorang pemimpin yang itu benar  maka yang akan di dapatkan adalah dihukumnya  seorang pengkhianat dan pembangkang itu. Sebaliknya jika mentaati peraturan atau perintah maka kita akan mendapat hak hak yang seberhaknya diperoleh.
Share: